Waspada Kesalahpahaman Mengenai Mahar Pernikahan Berikut Ini

waspada-kesalahpahaman-mahar.jpg

 

Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam sebuah pernikahan. Dari mulai gaun yang dikenakan, lokasi pernikahan apakah akan nikah di hotel Jakarta atau aula restoran, adat yang akan digunakan, dan sebagainya. Namun, di antara sekian banyaknya persiapan, satu hal wajib yang harus kamu perhatikan ada mahar pernikahan.

Kamu pastinya sudah tahu kan apa itu mahar? Apalagi dalam pernikahan Islam, mahar atau mas kawin akan menjadi satu hal wajib yang harus disebutkan saat ijab kabul. Namun, tahukah kamu bahwa ternyata masih ada beberapa kesalahpahaman mengenai mahar yang beredar di masyarakat? Berikut ini beberapa di antaranya:
 

Harus tunai

Mahar yang diberikan pada istri tidak harus sesuatu yang sudah dibayar tunai, tetapi boleh juga sesuatu yang masih dalam kondisi kredit atau utang. Namun, pada saat prosesi ijab kabul mempelai pria harus menyatakan status mahar tersebut dan juga periode waktu pembayarannya. Selanjutnya sang suami wajib melunasi utang mahar tersebut sesuai periode waktu yang disebutkan.
 

Bentuk mahar bebas

Mahar haruslah sesuatu yang memiliki nilai manfaat bagi sang istri. Disarankan untuk memberikan mahar yang memiliki nilai ekonomi seperti benda berharga atau uang tunai. Tujuannya adalah agar mahar tersebut dapat dimanfaatkan istri untuk membantu perekonomian keluarga saat mengalami masalah finansial ke depannya. Namun, jika calon suami memiliki kondisi ekonomi yang sangat terbatas dan tidak sanggup, maka bisa menggantinya dengan hal lain seperti berbentuk jasa yang bermanfaat. Mahar juga tidak boleh sesuatu yang memberatkan calon suami.
 

Ditujukan untuk keluarga

Mahar sepenuhnya adalah hak istri dan tidak boleh diganggu oleh keluarga. Sayangnya banyak keluarga yang terkadang meminta mahar dalam jumlah fantastis pada calon suami sebagai syarat direstuinya pernikahan. Padahal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mahar tidak boleh memberatkan tetapi harus bermanfaat untuk istri nantinya.

Saat ini, ada banyak sekali calon pengantin yang menggunakan uang tunai untuk mahar pernikahannya dan disesuaikan dengan tanggal pernikahan. Uang tersebut kemudian disusun menjadi suatu bentuk tertentu seperti kipas, masjid, dan sebagainya.

Jika kamu berencana untuk menggunakan mahar seperti ini dalam pernikahanmu, maka pastikan untuk tidak menggunakan uang asli sebagai uang yang dibentuk. Sebab hal ini masuk ke dalam perusakan uang yang dilarang oleh Bank Indonesia. Ancamannya tidak main-main, kamu bisa dipenjara maksimal 5 tahun atau denda sebesar 1 miliar rupiah jika melakukannya. Kamu bisa mengakalinya dengan menggunakan uang monopoli atau sejenisnya untuk dibentuk dan kemudian menyusun uang mahar di tempat lain tanpa menggunakan perekat apapun.
 

Sudah jelas kan informasi mengenai mahar tersebut? Semoga kamu tidak sampai salah memaknai mahar lagi ya!